Aug
Seorang pemimpin pondok pesantren memberi contoh nyata apa itu Semangat Bisa. Dia Tuan Guru Haji Hasanain Juaini, 47 tahun, seorang pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Nurul Haramain di Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat. Baru-baru ini ia diumumkan sebagai penerima penghargaan Ramon Magsaysay 2011.
Penyerahan penghargaan itu akan dilakukan di gedung Pusat Kebudayaan Filipina di Manila, 31 Agustus 2011. Rencananya ia akan berangkat ke Manila pada 23 Agustus mendatang.
Ramon Magsaysay Award atau Hadiah Ramon Magsaysay, adalah suatu hadiah penghargaan yang dibentuk pada bulan April 1957, oleh para wali amanat Rockefeller Brothers Fund (RBF) yang berpusat di Kota New York, Amerika Serikat.
Dengan persetujuan dari pemerintah Filipina, hadiah ini diciptakan untuk mengenang Ramon Magsaysay, almarhum Presiden Filipina; dan untuk menyebar-luaskan keteladanan integritasnya dalam menjalankan pemerintahan, kegigihannya dalam memberikan pelayanan umum, serta idealisme pragmatisnya dalam suatu lingkungan masyarakat yang demokratis.
Menurut situs Ramon Magsaysay Award Foundation, Hasanain terpilih karena, "Kepeduliannya terhadap masyarakat berbasis pendekatan pendidikan pesantren di Indonesia, kreatif mempromosikan nilai-nilai kesetaraan gender, kerukunan beragama, pelestarian lingkungan, prestasi individu, serta keterlibatan masyarakat di kalangan mahasiswa muda dan komunitas mereka."
‘’Tentu saya bersyukur mendapat penghargaan tersebut. Sekaligus juga malu karena masih ada orang lain yang layak menerimanya,’’ katanya, sewaktu dihubungi oleh Tempo pada Selasa siang, 2 Agustus 2011.
Selain Hasanain, warga Indonesia lain yang menerima penghargaan Raymon Magsaysay 2011 adalah Tri Mumpuni. Beberapa tokoh asal Indonesia yang pernah mendapatkan penghargaan Raymon Magsaysay di antaranya Mochtar Lubis pada 1958 dan Soedjatmoko pada 1978.
Hasanain mengaku tidak tahu dan tidak pernah terbayangkan bisa mendapatkan penghargaan tersebut. ‘’Saya benar-benar tidak tahu,’’ katanya.
Suami dari Runiati Ilarti dan bapak empat orang anak tersebut melengkapi penghargaan yang diterima sebelumnya baik di tingkat lokal maupun nasional.
Sebelumnya, pada 2003 ia menerima penghargaan Medali Ashoka Internasional untuk Social Entrepreneur karena terobosan inovasi persoalan sosial, pluralisme, dan perspektif gender di pondok pesantren dan kehidupan Islam.
Selama tiga tahun ia mendapatkan dana Rp 3,6 juta sebulan yang akhirnya dikembangkan, sehingga memperoleh Maarif Award 2008 dari Institut Kebudayaan dan Kemanusiaan Maarif Indonesia.
Di tingkat lokal ia mendapatkan penghargaan dari Bupati Lombok Barat pada 2004 untuk sekolah Islam yang berusaha keras melestarikan hutan dan air konservasi. Hasanain dinilai sebagai pengasuh pesantren yang konsisten terhadap konservasi hutan kegiatan murah udara.
Ia mengaku tidak melakukan apa-apa terkecuali menjalankan kegemarannya saja. Selama berpuluh tahun ia melakukan kegiatan yang diperlukan masyarakat karena memang senang.
‘’Saya tersiksa tidak bisa tidur kalau tidak mengerjakan apa yang muncul dalam inspirasi,’’ ujarnya. Artinya, pekerjaan yang dilakukan untuk menenangkan dan menyenangkan dirinya.
Hasanain mengibaratkan pemberian penghargaan ini sebagai cambuk, sehingga pantang mengecewakan orang yang telah memberinya penghargaan. Kemudian dia berpendapat bahwa pemberian penghargaan ini sebagai perintah agar dirinya bekerja lebih keras. Padahal, ia merasa sudah bekerja habis-habisan.
