. Danamon Award | Peraih 2012
Peraih 2012


Bambang Parianom (57 Tahun)

"Penyelamat Lingkungan", Kode SMS: DA 1#kota, kirim ke 9123.

Banjir bandang yang melanda Batu, Malang, pada 2 Februari 2004 membuat Bambang Parianom berinisiatif melakukan reboisasi hutan di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Tahun 2005, ia mendirikan Yayasan PUSAKA untuk menggalang bantuan dana bagi petani binaan yang terlibat dalam penghijauan. Yayasan ini juga menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan usaha produktif dalam pelestarian alam yang melibatkan partisipasi masyarakat.

Usahanya diawali dengan menanami pohon bambu di pinggiran hulu sungai Brantas, dilanjutkan dengan penanaman apel dan jambu merah di sepanjang aliran sungai tersebut. Yayasan ini membagikan bibit jambu merah dan apel secara gratis kepada masyarakat. Dengan begitu, masyarakat bisa dibimbing untuk menghargai sumber-sumber mata air sekaligus berperan aktif menjaga daerah bantaran sungai agar tidak longsor. Saat ini Yayasan PUSAKA telah menjalin kemitraan dengan berbagai kalangan yang peduli lingkungan dengan total lahan yang digarap mencapai kurang lebih 100 hektar

 


Djuhhari Witjaksono (82 Tahun)

"Seniman Bahari", Kode SMS: DA 2#kota, kirim ke 9123.

Kesejahteraan masyarakat bisa ditingkatkan melalui kerajinan miniatur kapal. Hal inilah yang dibuktikan Djuhhari Witjaksono, warga, Mojokerto, Jawa Timur. Dengan belajar secara otodidak sejak tahun 1980-an ia mampu membuat beragam perahu miniatur tradisional Nusantara.

Salah satu karya monumentalnya adalah miniatur perahu Majapahit yang ia buat pada tahun 1991. Hasil karyanya ini ternyata menarik minat banyak orang. Djuhhari, yang akrab dipanggil Abah, menjual karya-karyanya dengan harga antara ratusan ribu hingga ratusan juta rupiah. Omzetnya kini mencapai Rp 30 juta per bulan.

Sejak awal menekuni bidang ini Abah memotivasi masyarakat setempat untuk ikut terlibat karena ia yakin dengan potensi bisnis yang dikembangkannya. Ia menularkan keahliannya kepada generasi muda dengan terjun langsung mengajari cara membuat miniatur kapal tradisional. Hasilnya, banyak warga setempat menekuni usaha yang sama, sehingga Desa Blooto dan Dusun Bangsal, Mojokerto, terkenal sebagai salah satu sentra pengrajin miniatur kapal.

 


Habibie Afsyah (24 Tahun)

"Suhu Internet Marketer", Kode SMS: DA 3#kota, kirim ke 9123.

Habibie Afsyah yang lahir di Jakarta, 6 Januari 1988, tumbuh dengan keterbatasan fisik. Sejak bayi, Habibie didiagnosis mengidap penyakit langka Muscular Dystrophy tipe Becker yang merusak saraf motorik di otak kecilnya. Penyakit itu membuat tubuh Habibie tak bisa berkembang sempurna.

Keterbatasan fisik dan gerak itu tak membuat Habibie patah semangat. Ia belajar seluk beluk marketing di dunia maya, aktivitas bisnis yang tak terlalu banyak menyita gerak fisik. Hasilnya luar biasa. Dari aktivitas mempromosikan produk yang dijual online, ia mampu memiliki pendapatan hingga ribuan dollar (USD) per bulan.

Melalui Yayasan Habibie Afsyah, pemuda yang gemar bermain online games ini getol mengkampanyekan forum Be Your Self. Melalui forum tersebut, kepiawaiannya sebagai seorang internet marketer ia tularkan ke sesama penyandang disabilitas di Indonesia. Tidak hanya itu, Habibie juga mengajak masyarakat luas untuk menggali potensi dan mengembangkan diri agar mandiri.

 


Joharipin (37 Tahun)

"Pemberdaya Petani", Kode SMS: DA 4#kota, kirim ke 9123.

Joharipin terlahir dari keluarga petani di Desa Jengkok, Kecamatan Kertasemaya, Indramayu. Pria yang akrab disapa Mas Jo ini awalnya merasa prihatin dengan harga benih yang mahal, juga pupuk yang seringkali langka. Belum lagi kesulitan modal yang seringkali memaksa dia dan petani lainnya harus rela berhutang pada tengkulak.

Dalam upayanya untuk menekan harga benih yang mahal, ia berhasil menemukan benih unggul padi Bongong yang merupakan hasil silangan benih padi Kebo dan benih padi Longong.

Awalnya hanya 30 orang yang mau mengikuti Mas Jo menanam padi dari benih lokal. Tapi sekarang sudah ribuan petani yang minta benih dari dia, karena benih padi Bongong ternyata menghasilkan panen lebih tinggi. Panen padi mereka yang sebelumnya menghasilkan hingga sampai 7 ton, dengan benih Bongong panen bisa mencapai 10 ton.

Benih padi Bongong kini ditanam secara luas mulai dari Aceh, Kalimantan Barat, Kudus dan Lumajang, sehingga ikut meningkatkan penghasilan para petani.

 


Lale Alon Sari (45 Tahun)

"Srikandi Tenun", Kode SMS: DA 5#kota, kirim ke 9123.

Kemiskinan masih melekat pada kaum perempuan di Desa Batu Jai, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Tak hanya itu, layanan kesehatan juga belum memadai dan tingkat pendidikan masyarakatnya terbatas.

Mulai tahun 1987, Lale Alon Sari turun ke dusun-dusun memotivasi kaum perempuan agar bersama-sama keluar dari kondisi yang ada melalui Aliansi Peduli Perempuan Kembang Komak (AP2K). Lale memilih pemberdayaan melalui keterampilan menenun yang dikuasai perempuan setempat secara turun-temurun. Ia memberikan pelatihan, membuka akses terhadap bahan baku dan mengembangkan pemasaran dengan membangun artshop yang menjual hasil tenun.

Ia juga membentuk Koperasi Wanita “Stagen” untuk solusi permodalan. Koperasi ini memberikan jasa simpan pinjam kepada calon anggota dan anggota kelompok tenun. Kini masyarakat bisa hidup lebih sejahtera dan 60 kelompok perempuan penenun di Desa Batu Jai dengan 600 anggotanya bisa lebih mandiri.

 


Share